Minggu, 17 Desember 2017

ARTI, ASAL-USUL, MANFAAT TASAWUF DALAM ISLAM DAN HISTORIS PERTUMBUHAN, PERKEMBANGAN TASAWUF



BAB I
PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
Tasawuf adalah bagian dari syariat islam, yaitu perwujudan dari ihsan. Salah satu dari tiga kerangka ajaran Islam yang lain, yaitu Iman dan Islam.
Tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana. Sikap jiwa yang demikian itu pada hakikatnya adalah akhlak mulia.

1.2     Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut muncul beberapa permasalahan, yakni;
1.      Apakah arti Tasawuf?
2.      Bagaimanakah asal-usul dan manfaat tasawuf?
3.      Bagaimana historis pertumbuhan dan perkembangan tasawuf?

1.3     Tujuan
Dari rumusan masalah tersebut, pemakalh membuat makalah ini bertujuan untuk;
1.      Agar pembaca mengetahui arti Tasawuf.
2.      Agar pembaca mengetahui agar pembaca mengetahui.
3.      Agar pembaca mengetahui historis pertumbuhan dan perkembangan tasawuf.






 BAB II
LANDASAN MATERI
2.1        Asal-usul Kata Tasawuf
Lafal kata tasawuf merupakan mashdar (kata jadian) bahasa arab dari fi’il (kata kerja) menjadi kata merupakan (kata kerja tambahan dan huruf), yaitu ‘ta’ dan ‘tasydid’, yang sebenarnya berasal dari (kata kerja asli dari tiga huruf), yang berbunyi menjadi (mashdar); artinya ‘mempunyai bulu yang banyak’. Perubahan dari kata menjadi kata yang dalam kaidah bahasa arab, berarti (menjadi) berbulu yang banyak, dengan arti sebenarnya adalah menjadi sufi yang ciri khas pakaiannya selalu terbuat dari bulu domba (wol).
Para ahli berpendapat bahwa asal usul kata tasawuf dibagi menjadi tujuh bagian:
1)      Pertama, tasawuf berasul dari shuf, yang berarti “wol kasar” karena orang-orang sufi selalu memakai pakaian tersebut sebagai lambang kesederhanaan.
2)      Kedua, tasawuf berasal dari akar kata shafa’, yang berarti bersih. Disebut sufi karena hatinya tulus dan bersih dihadapan tuhannya, tujuan sufi adalah membersihkan batin melalui latihan-latihan yang lama dan ketat.
3)      Ketiga, tasawuf berasal dari istilah yang dikonotasikan dengan ahl- assuffah, yaitu orang-orang yang tinggal disuatu kamar disamping dimasjid Nabi di Madinah.
4)      Keempat, tasawuf berasal dari kata shopos. Kata tersebut berasal dari yunani yang berarti hikmah.
5)      Kelima, tasawuf berasal dari kata shaf. Makna shaf dinisbahkan kepada orang-orang yang ketika shalat selalu berada di shaf yang paling depan.
6)      Keenam, kata tasawuf berkaitan dengan kata ash-shifah karena para sufi sangat mementingkan sifat-sifat terpuji dan berusaha keras meninggalkan sifat-sifat tercela.
7)      Ketujuh, tasawuf berasal dari kata ‘shaufanah’ yaitu sebangsa buah-buahan kecil yang berbulu-bulu dan banyak tumbuh dipadang pasir di tanah arab, dimana pakaian kaum sufi itu berbulu-bulu seperti buah itu pula, dalam kesederhanaannya.
Menurut Harun Nasution asal usul kata tasawuf dibagi menjadi 5 istilah :
1.   Al Suffah (Ahl Al suffah) yaitu orang yang ikut berpindah dengan Nabi SAW dari Mekah keMadinah. Hal ini menggambarkan bahwa keadaan orang yang rela mencurahkan jiwa dan raganya, harta bendanya dan lain sebagainya hanya untuk Allah SWT.
2.   Shaf yang berarti barisan. Menggambarkan seseorang yang selalu berada dibarisan depan dalam beribadah kepada Allah dan melakukan amal kebajikan.
3.   Sufi yang berarti suci. Menggambarkan orang yang selalu memelihara dirinya dari berbuat dosa dan maksiat.
4.   Sophos yang berarti hikmah (berasal dari bahasa Yunani). Menggambarkan keadaan jiwa yang senantiasa cenderung kepada kebenaran.
5.   Suf yang berarti kain wol. Menggambarkan orang yang hidup sederhana dan tidak mementingkan dunia.

2.2        Pengertian Tasawuf
Dari segi bahasa terdapat sejumlah kata atau istilah yang dihubung-hubungkan dengan para ahli untuk menjelaskan kata tasawuf. Harun nasution, misalnya meneyebutkan lima istilah yang berkenaan dengan tasawuf, yaitu al-suffah (ahl al-suffah), (orang yang ikut pidah dengan nabi dari Makkah ke Madinah), saf (barisan), sufi (suci), Sophos (bahasa yunani: hikmat), dan suf (kain wol).
Dari segi linguistic (kebahasaan) ini segera dapat dipahami bahwa tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana. Sikap jiwa yang demikian itu pada hakikatnya adalah akhlak mulia.
Definisi tasawuf dari segi istilah atau menurut para ahli dibedakan menurut sudut pandang masing-masing:
1.      Jika dilihat dari sudut pandang manusia sebagai makhluk yang terbatas, maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia, dan memusatkan perhatiannya hanya kepada Allah SWT.
2.      Jika dari sudut pandang manusia sebagai makhluk yang harus berjuang, maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya memperindah diri dengan akhlak yang bersumber dari ajaran agama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.
3.      Jika dari sudut pandang mausia sebagai makhluk ber-Tuhan, maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai kesadaran fitrah (ke-Tuhanan) yang dapat mengarahkan jiwa agar tertuju kepada kegiatan-kegiatan yang dapat menghubungkan manusia dengan Tuhan.
Jika tiga definisi tasawuf diatas di hubungkan, maka segera tampak bahwa tasawuf pada intinya adalah upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan dirinya dari pengaruh kehidupan dunia, sehingga tercermin akhlak yang mulia dan dekat dengan Allah SWT. Dengan kata lain, tasawuf adalah bidang kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan mental rohaniah agar selalu dekat dengan Tuhan. Inilah esensi atau hakikat tasawuf.   
2.3        Sumber Tasawuf
Berikut sumber tasawuf menurut kaum orientalist, yakni;
1.      Unsur islam
Secara umum ajaran Islam mengatur kehidupan yag bersifat lahiriah atau jasadiah, dan kehidupan yang bersifat batiniah. Pada unsur kehidupan yang beriat batiniah itulah kemudian lahir tasawuf. Unsur kehidupan tasawuf ini mendapat perjatian yang cukup besar dar sumber ajaran islam, al- Qur’an dan As-Sunnah serta praktik kehidupan nabi dan para sahabatnya salah satunya Tuha dapat memeberikan cahaya kepada orang yang dikehendakinya (lihat Q.S Al-Nur [24]: 35).
Al- sunnah pun banyak berbicara tentang kehidupan rohaniah. Salah satunya dalam hadis berikut;
“ Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi maka aku menjadikan makhluk agar mereka mengenal-Ku.”
         Hadis tersbut memberikan petunjuk bahwa alam raya, termasuk kita ini adalah merupakan cermin Tuhan, atau bayangan Tuhan. Tuhan ingin mengenal dirinya melalui penciptaan alam ini. Dengan demikian, dalam alam raya ini terdapat potensi ketuhanan yang dapat didayagunakan untuk mengenal-Nya. Dan apa yang ada di alam raya ini pada akhirnya akan kembali kepada Tuhan.
Selanjutnya di dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Juga terdapat petnjuk yang menggambarkan sebagai seorang sufi. Nabi Muhammad SAW. Telah melakukan perasingan diri ke Gua Hira’ menjelang datangnya wahu. Selama di Gua Hira yang ia kerjakan hanyalah tafakur, beribadah dan hidup sebagai seorang zahid. Beliau hidup sederhana, terkadang mengenakan pakaian tambalan, tidak memakan makanan atau meminum minuman kecuali yang halal, dan setiap malam senantiasa beribadah kepada Allah SWT, sehingga  Siti Aisyah, istri beliau bertanya: “mengapa engkau berbuat begini ya rosulullah, sedangka Allah senantiasa mengampuni dosamu.” Nabi menjawab:  “apakah engkau tidak ingin agar aku menjadi hamba yang bersyukur kepada Allah”.
Di kalangan para sahabat dan masyarakat pun ada pula orang yang mengikuti praktik bertasawuf senagaimana yang diamalkan oleh Nabi Muhammad SAW. Diantaranya Abu Bakar Ash-shidiq, Usaman Ibn Affan dan Hasan Al-Basri. Bersamaan dengan tu pada masa ini timbul pula aliran-aliran keagamaan. Untuk memendung aliran ini, maka timbulah kelompok yang tidak mau terlibat dalam penggunaan akal untuk membahas soal-soal tasawuf. Kelompok yang terakhir ini berusaha mengasingkan diri dan memusatkan diri untuk beribadah kepada Allah.
         Dari informasi tersebut terlihat bahwa munculnya tasawuf di kalangan umat islam bersumber pada dorongan ajaran islam dan factor situasi osial dan sejarah kehidupan masyarakat pada umumnya.

2.      Unsur Luar Islam
Para orientalist barat menyimpulkan bahawa adanya unsur luar islam masuk ke dalam taswuf itu disebabkan karena secara historis agama-agama tersebut telah ada sebelum islam, bahkan banyak dikenal oleh masyarakat Arab yang kemudian mauk islam. Akan tetapi, kita dapat mengatakan bahwa boleh saja orang Arab terpengaruh oleh agama-agama tersebut, namun tidak secara otomatis memepengaruhi kehidupan tasawuf, karena para penyusun lmu tasawuf atau oran yang kelak menjadi sufi itu bukan berasal dari mereka.
Unsur-unsur luar islam yang diduga mempengaruhi tasawuf islam itu selanjutnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.      Unsur Masehi
Unsur tasawuf yang diduga memengaruhi tasawuf islam adalah sikap fakir. Menurut keyakinan Nasrani bahwa Isa bin Maryam adalah seorang yang fakir, dan Injil juga disampaikan kepada orang fakir. Selanjutnya adalah sikap tawakkal kepada Allah dalam soal penghidupan  terlihat pada peranan syaikh yang menyerupai pendeta, bedanya pendeta dapat menghapus dosa.
b.      Unsur Yunani
Metode berfikir filsafat yunani telah ikut memengaruhi polaberpikir sebagian orang islam yang ingin berhubungan dengan Tuhan. Kalau pada bagian uraian dimulai perkembangan tasawuf ini baru dalam taraf amaliah (akhlak) dalam pengaruh filsafat Yunani ini  maka uraian-uraian tentang tasawuf itu pun tela berubah menjadi tasawuf filsafat. Hal ini dapat dilihat dari pemikiran al-Farabi, al-Kndi, Ibn-sina terutama dalam uraian mereka tentang filsafat jiwa.
   Ungkapan Neo Platonis; “kenallah dirimu dengan dirimu” diambil oleh para sufi dan diantara para sufi berkata: “Siapa yang mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya”. Tidak salah lagi bagi kellompok Neo Shopi (Sufi berketuhanan dan fiosof) seperti al-Farabi deitentukan pengaruh nyata filsafat dalam cara berpikir mereka. 
c.       Unsur Hindu/Budha
Menurut Qamar Kailani pendapat ini terlalu ekstrim sekali kalau ditereima bahwa ajaran itasawuf berasal dari Hidu/Budha, berarti pada zaman nabi Muhammad SAW. Telah berkembang ajaran Hind/Budha itu ke mekkah,padahal sepanjang sejarah belum ada kesimpulan seperti itu.
d.      Unsur Persia
Kehiduan kerohanian Arab masuk ke Persia itu terjadi melalui ahi-ahli tasawuf di dunia. Namun barangkali ada kesamaan antara istilah zuhud di arab dengan zuhud menurut agama Manu dan Mazdaq dalam agama Zarathustra.

2.4        Manfaat Tasawuf
Adapun manfaat tasawuf yang dapat diperoleh, antara lain sebagai berikut.
1.      Membersihkan hati dalam berinteraksi dengan Allah.
Esensi tasawauf adalah tazhkiyah an-nafs yang artinya membersihkan jiwa dari kotoran-kotoran. Dengan tasawuf, hati seorang menjadi bersih sehingga dalam berinteraksi kepada Allah akan menemukan kedamaian hati dan ketenangan jwa.
2.      Membersihkan diri dari pengaruh materi.
Melalui tasawuf, kecintaan seseorang yang berlebihan terhadap materi atau urusan duniawi lainnya akan dibatasi. Memiliki harta benda ini tidaklah semata-mata untuk memenuhi nafsu, tetapi lebih mendekatkan diri kepada Allah.
3.      Menerangi jiwa kegelapan
Penyakit resah, gelisah dan sifat-sifat buruk dalam diri manusia dapat diembuhkan dengan ajaran agama, khususnya ajaran yang berkaitan dengan olah jiwa manusia, yaitu tasawuf dimana ketentraman batin atau jiwa yang menjadi sasarannya.
4.      Memperteguh dan menyuburkan keyakinan agama
Keteguhan hati tidak dapat dicapai tanpa adanya siraman jiwa. Jika ajaran taawuf diamalkan oleh seorang muslim, ia akan bertambah teguh keimanannya dalam memperjuangkan agama islam.
5.      Mempertinggi akhlak manusia
Mempelajari dan mengamalkan tasawuf sangat tepat untuk kaum muslimin karena dapat mempertinggi akhlak, baik dalam kaitan interaksi antara manusia dan Tuhan, maupun interaksi antar sesama manusia.

2.5        Pertumbuhan Tasawuf
Dalam sejarah perkembangannya, para ahli membagi tasawuf menjadi dua. Pertama, tasawuf Akhlaki, ada yang menyebutkan sebagai tasawuf yang banyak dikembangkan oleh kaum sallaf, karena mengarah pada teori-teori perilaku. Kedua, tasawuf Falsafi, yaitu tasawuf yang mengarah pada teori-teori yang rumit dan memerlukan pemahaman mendalam. Tasawuf Falsafi ini banyak dikembangkan para sufi yang berlatar belakang sebagai filsuf.
   Perkembangan taswuf dalam islam telah mengalami beberapa fase. Pertama, fase askestisme (zuhud) yang tumbh pada aba I dan II Hijriah. Sikap yag asketisme (zuhud) banyak dipandang sebagai pengantar munculnya tasawuf. Pada fase ini terdapat individu-individu dari kalangan muslim yang lebih memusatkan dirinya pada ibadah. Mereka menjalankan konsep asketis dalam kehidupan, yaitu tidak mementingkan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Mereka lebih banyak beramal untuk hal-hal ang berkaitan dengan kehidupa akhirat, yang lebih memusatkan diri pada jalur khidupan dan tingka laku yang asketis. Tokoh yang sangat popular dari kalangan ini  adalah Hasan Al-Basri (w. 110 H) dan Rabi’ah Al-Adawiyyah (w. 185 H). kedua tokoh ini dijuluki sebagai zahid.
Pada abad III Hijriah, para sufi mulai menaruh perhatian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan tingkah laku. Perkembangan doktrin-doktrin dan tingkah laku sufi ditandai dengan upaya menegakkan moral ditengah terjadinya dekdensi moral yang berkembang saat itu, sehingga di tangan mereka tasawuf pun brkemban menjadi ilmu moral keagamaan atau ilmu akhlak keagamaan. Pembahasan mereka tentang moral, akhirnya mendorongnya untuk semakin mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan akhlak.
Kemudian pada abad III Hijriah muncul jenis tasawuf lain yang lebih menonjolkan pemikiran yang eksklusif. Golongan ini diwakili oleh Al-Hallaj, yang kemudian dihukum mati karena menyatakan pendapatnya mengenai hulul (pada 309 H). Boleh jadi, Al-Hallaj mengalami peristiwa nahas seperti itu dikarenakan paham hulul-nya yang sangat kontroversial dengan kenyataan dimasyarakat yan tengah menggandrungi jenis tasawuf akhlaki.
Pada abad V Hijriah muncul imam al-Ghozali, yang sepenuhnya hanya menerima tasawuf berdasarkan Alquran dan sunnahbertujuan aksetisme (kehisupan sederhana, pelurusan jiwa, serta pembinaan moral.
Abad VI Hijriah, sebagai akibat pengaruh kepribadian Al-Ghazali yang begitu besar, pengaruh tasawuf sunni meluas ke seluruh pelosok dunia Islam. Muncul juga sekolompok aliran tasawuf yang memadukan tasawuf mereka dengan filsafat, degan teori-teori mereka yang setengah-setengah. Artinya tidak data dikatakan murni tasawuf, tetapi juga tidak dapat disebut murni filsafat.
   Dengan demikian aliran tasawuf terbagi menjadi dua, yaitu tasawuf sunni yang lebih berorientasi pada pengokoan filososfis dengan ungkapan-ugkapan ganjilnya (syatahiyat) dalam ajaran-ajaran yang dikembangannya. Ungkapan-ungkapan Syatahiyat itu bertolak dari keadaan fana menuju pernyataan tentang terjadinya penyatuan atau hulul.
Dengan demikian, abad V Hijriah merupakan tonggak yang menetukan kejayaan tasawuf suni. Pada abad tersebut, tasawuf sunni tersebar luas dalam kalangan dunia islam. Fondasinya begitu dalam terpancang untuk jangka lama pada berbagai lapisan masyarakat Islam. 

2.6        Perkembangan Tasawuf
1.      Pada abad pertama dan kedua Hijriyah
a.       Perkembangan tasawuf pada masa sahabat
Para sahabat juga mencontohi kehidupan rosulullah yang serba sederhana, dimana hidupnya hanya semata-mata diabdikan kepada tuhannya. Beberapa sahabat yang tergolong sufi di abad pertama, dan berfungsi sebagai maha guru bagi pendatang dari luar kota Madinah, yang tertarik kepada kehidupan shufi, para sahabat-sahabat tersebut antara lain, Khulafaurrasyidin, Salman Al-Farisiy, Abu Dzarr Al-Ghifary, dll.
b.      Perkembangan tasawuf pada masa tabi’in
Ulama-ulama sufi dari kalangan tabi’in adalah murid dari ulama-ulama sufi dari kalangan shahabat. Kalau berbicara tasawuf dan perkembangannya pada abad pertama, dengan mengemukakan tokoh-tokohnya dari kalangan shahabat, maka pembicaraan perkembangan tasawuf pada abad kedua dengan tokoh-tokohnya pula. Tokoh-tokoh ulama sufi Tabi’in antara lain, Al-Hasan Al-Bashry,Rabi’ah Al-Adawiyah, Sufyaan bin sa’id Ats-Tsaury, Daud Ath-Thaaiy, dll.
2.      Perkembangan tasawuf pada abad ketiga hijriyah
Pada abad ini perkembangan tasawuf pesat, hal ini ditandai dengan adanya segolongan ahli tasawuf yang mencoba menyelidiki inti ajaran tasawuf yang berkembang pada masa itu, sehingga mereka membaginya ke dalam tiga macam, yakni; Tasawuf yang berintikan ilmu jiwa, ilmu akhlaq dan Metafisika. Tokoh-tokoh sufi pada masa ini diantaranya; Abu Sulaiman Ad-Daaraany, Ahmad bin Al-Hawaary Ad-Damasqiy, Abul Faidh Dzuun Nun bin Ibrahim Al-Mishry, dll.
3.      Perkembangan tasawuf pada abad ke empat hijriyah
Pada abad ini ditandai dengan kemajuan ilmu tasawuf yang lebih pesat dibandingkan dengan kemajuannya di abad ketiga hijriyyah, karena usaha maksimal para ulama tasawuf untuk mengembangkan ajaran tasawufnya masing-masing. Tokoh-tokoh sufinya antara lain Musa Al-Anshaary, Abu Hamid bin Muhammad, Abu Zaid Al-Adamy, Abu Ali Muhammad bin Abdil Wahhab, dll.
4.      Pada abad kelima hijriyyah
Disamping adanya pertentangan yang turun temurun antara Ulama sufi dengan ulama Fiqih, maka pada abad kelima ini, keadaan semakin rawan ketika berkembangnya mahzab Syi’ah ismaa’iliyah; yaitu suatu mahzab yang hendak mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada keturunan Ali bin Abi Thalib. Karena menganggapnya bahwa dunia ini harus diatur oleh imam, karena dialah yang langsung menerima petunjuk dari Rosulullah saw.
Menurut mereka ada 12 imam yang berhak mengatur dunia ini yang disebut sebagai imam mahdi, yang akan mmenjelma ke dunia dengan membawa keadilan dan memurnikan agama islam. Kedua belas imam itu adalah:
1.      Ali bin Abi Thalib
2.      Hasan bin Ali
3.      Husein bin Ali
4.      Ali bin Husein
5.      Muhammad Al-Baakir bin Ali bin Husein
6.      Ja’far shadiq bin Muhammad Al Baakir
7.      Musa Al-Kazhim bin Ja’far Shadiq
8.      Ali Ridhaa bin Kazhim
9.      Muhammad Jawwad bin Ali Ridha
10.  Ali Al-Haadi bin Jawwaad
11.   Hasan Askary bin Al-Haadi
12.  Muhammad bin Hasan Al-Mahdi

5.      Pada abad keenam, ketujuh dan kedelapan Hijriyyah
Perkembangan tasawuf pada abad keenam Hijriyyah; abad ini suasana kemelut antar ulama syariat dengan ulama Tasawuf memburuk, karena dihidupkannya lagi pemikiran-pemikiran al-Hulul, Widatul wujud dan Widatul Adyan oleh kebanyakan ulama Tasawuf. para ulama yang sangat berpengaruh pada zaman ini adalah Syihabuddin Abul Futu As-Suhrawardy, Al-Ghaznawy.

6.      Perkembangan tasawuf pada abad ketujuh Hijriyyah; pada abad ini tercatat dalam sejarah bahwa masa menurunnya gaerah masyarakat Islam untuk mempelajari Tasawuf karena :
a)      Semakin gencarnya serangan ulama syariat memerangi ahli Tasawuf, yang diiringi dengan serangan golongan Syiah yang menekuni ilmu kalam dan fiqih.
b)      Adanya tekat penguasa pada masa itu untuk melenyapkan ajaran Tasawuf di dunia Islam karena dianggap kegiatan itu menjadi sumber perpecahan umat Islam. ada beberapa ahli tasawuf yang berpengaruh di abad ini diantaranya; Umar Abdul Faridh, Ibnu Sabi’iin, Jalaluddin Ar-Ruumy, dll.
c)      Perkembangan Tasawuf pada abad kedelapan Hijriyyah; Perkembangan Tasawuf abad ini tidak terdengar perkembangannya dan pemikiran baru dalam Tasawuf, meskipun banyak pengarang kaum shufi yang mengemukakan pemikiran tentang ilmu Tasawuf, namun kurang mendapat perhatian sungguh-sungguh dari umat Islam. Sehingga nasib ajaran Tasawuf hampir sama dengan abad ketujuh.
d)     Pada abad kesembilan, kesepuluh Hijriyyah dan sesudahnya.
Dalam beberapa abad ini, betul-betul ajaran tasawuf sangat sunyi di dunia islam, artinya nasibnya lebih buruk lagi dari keadaannya pada abad keenam, ketujuh dan kedelapan Hijriyah. Faktor yang menyebabkan runtuhnya ajaran tasawuf ini antara lain; ahli tasawuf sudah kehilangan kepercayaan di kalangan masyarakat islam. Serta adanya penjajah bangsa eropa yang beragama Nasrani ynag menguasai seluruh negeri islam.


























BAB III
PENUTUP
3.1        Kesimpulan
Kata Tasawuf biasa disandingkan dengan beberapa istilah antara lain Al Suffah (Ahl Al suffah), Shaf ,  Sufi , Sophos, Suf.
Tasawuf pada intinya adalah upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan dirinya dari pengaruh kehidupan dunia, sehingga tercermin akhlak yang mulia dan dekat dengan Allah SWT. Dengan kata lain, tasawuf adalah bidang kegiatan yang berhubungandengan pembinaan mental rohaniah agar selalu dekat dengan Tuhan. Inilah esensi atau hakikat tasawuf.
   Sumber tasawuf terdiri dari unsur islam dan unsur luar islam yang terdiri dari unsur Masehi, unsur Yunani, unsur Hindu/Budha, unsur Persia.
    















DAFTAR PUSTAKA
Nata, abuddin, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015).
Amin, Samsul M, Ilmu Tasawuf, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012).
Anwar, Rosihon, Akhlak tasawuf, Bandung: Pustaka Setia.
Nasution, Harun, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1995
Abu BakarAceh, Pengantar Sejarah Sufi dan tasawuf, (Solo : Ramadlani), 1984,hlm.57