MAKALAH IAD DAN ISBD
“HAKIKAT
INDIVIDU, KELUARGA, MASYARAKAT DAN INTERAKSI SOSIAL ”.
Dosen
Pengampu: Nency Dela Oktora, S.P, M.Sy
Kelompok 7 :
M. Adjie
Saputra 1602040113
Sindi
Ameliasari 1602040150
Ari Wijayanti 1602040006
Adi Saputra 1602040172
Ekonomi Syariah
Syari’ah Dan
Ekonomi Islam
SEKOLAH TINGGI
AGAMA ISLAM NEGERI
JURAI SIWO
METRO
TAHUN
2016/2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Manusia adalah makhluk individu, keluarga, dan masyarakat
oleh karenanya manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosial yang hidup
berkelompok atau berorganisasi dan saling membutuhkan orang lain. Masyarakat
merupakan wadah berkumpulnya individu-individu yang hidup secara sosial,
masyarakat terdiri dari ‘Saya’, ‘Anda’ dan ‘Mereka’ yang memiliki kehendak dan
keinginan hidup bersama. [Hajjah bainar :64].
Dalam berkehidupan, manusia saling
berkomunikasi untuk dapat menyampaikan apa yang dirasakan dan keinginananya
kepada orang lain, atau yang sering disebut dengan interaksi sosial. Dapat
dikatakan interaksi sosial apa bila, komunikasi dilakukan oleh dua atau lebih
manusia baik secara langsung maupun tidak langsung.
1.2
Masalah
Berikut
beberapa permasalahan yang timbul dari latar belakang diatas;
1. Bagaimana hakikat manusia sebagai
individu?
2. Bagaimana hakikat manusia sebagai
keluarga?
3. Bagaimana hakikat manusia sebagai
masyarakat?
4. Bagaimana hakikat manusia sebagai
interaksi sosial?
1.3
Tujuan
Dari
permasalahan diatas, pemakalah memiliki beberapa tujuan antaralain;
1.
Mengetahui
dan memahami hakikat manusia sebagai individu.
2.
Mengetahui
dan memahami hakikat manusia sebagai keluarga.
3.
Mengetahui
dan memahami hakikat manusia sebagai masyarakat.
4.
Mengetahui
dan memahami hakikat manusia sebagai interaksi sosial.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
2.1
Pengertian
Individu
Berasal dari kata
latin, “individuum” yang artinya tak
terbagi. Kata individu merupakan sebutan yang dapat untuk menyatakan satu kesatuan
yang paling kecil dan terbatas.
Kata
individu bukan berarti manusia sebagai keseluruhan yang tak dapat dibagi melainkan sebagai kesatuan terbatas yaitu
sebagai manusia perseorangan, demikian pendapat Dr. A. Lysen.
Individu
menurut konsep Sosiologi berarti manusia yang hidup berdiri sendiri. Individu
sebagai mahkluk ciptaan Tuhan di dalam dirinya selalu dilengkapi oleh
kelengkapan hidup yang meliputi raga, rasa, rasio, dan rukun.
1. Raga,
merupakan bentuk jasad manusia yang khas yang dapat membedakan antara individu
yang satu dengan yang lain, sekalipun dengan hakikat yang sama.
2. Rasa,
merupakan perasaan manusia yang dapat menangkap objek gerakan dari benda-benda
isi alam semesta atau perasaan yang menyangkut dengan keindahan.
3. Rasio
atau akal pikiran, merupakan kelengkapan manusia untuk mengembangkan diri,
mengatasi segala sesuatu yang diperlukan dalam diri tiap manusia dan merupakan
alat untuk mencerna apa yang diterima oleh panca indera.
4. Rukun
atau pergaulan hidup, merupakan bentuk sosialisasi dengan manusia yang
hidup berdampingan satu sama lain secara harmonis, damai dan saling
melengkapi. Rukun inilah yang dapat membantu manusia untuk membentuk suatu
kelompok social yang sering disebut masyarakat.
2.2
Pengertian
Keluarga
Keluarga berasal dari
bahasa Sansekerta "kulawarga". Kata kula berarti "ras" dan
warga yang berarti "anggota". Keluarga adalah lingkungan di mana
terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah. Keluarga sebagai
kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan antar
individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab di antara individu
tersebut.
Ki
Hajar Dewantara sebagai tokoh pendidikan berpendapat bahwa keluarga adalah
kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan
merasa berdiri sebagai satu gabungan yang hakiki, esensial enak dan berkehendak
bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk memuliakan masing-masing
anggotanya.
Keluarga
adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan
beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap
dalam keadaan saling ketergantungan. Di dalam keluarga terdapat dua atau lebih
dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan
atau pengangkatan, dihidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama
lain dan didalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan
suatu kebudayaan.
Ada
beberapa tipe keluarga yakni keluarga inti
yang terdiri dari suami, istri, dan anak atau anak-anak, keluarga konjugal
yang terdiri dari pasangan dewasa (ibu dan ayah) dan anak-anak mereka, dimana
terdapat interaksi dengan kerabat dari salah satu atau dua pihak orang tua.
Selain itu terdapat juga keluarga luas
yang ditarik atas dasar garis keturunan di atas keluarga aslinya. Keluarga luas
ini meliputi hubungan antara paman, bibi, keluarga kakek, dan keluarga nenek.
Ada beberapa fungsi yang dapat
dijalankan keluarga, sebagai berikut :
- Fungsi Pendidikan. Dalam hal ini tugas keluarga adalah mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak bila kelak dewasa.
- Fungsi Sosialisasi anak. Tugas keluarga dalam menjalankan fungsi ini adalah bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
- Fungsi Perlindungan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah melindungi anak dari tindakan-tindakan yang tidak baik sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman.
- Fungsi Perasaan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah menjaga secara instuitif merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
- Fungsi Religius. Tugas keluarga dalam fungsi ini adalah memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga yang lain dalam kehidupan beragama, dan tugas kepala keluarga untuk menanamkan keyakinan bahwa ada keyakinan lain yang mengatur kehidupan ini dan ada kehidupan lain setelah di dunia ini.
- Fungsi Ekonomis. Tugas kepala keluarga dalam hal ini adalah mencari sumber-sumber kehidupan dalam memenuhi fungsi-fungsi keluarga yang lain, kepala keluarga bekerja untuk mencari penghasilan, mengatur penghasilan itu, sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga.
2.3
Pengertian
Masyarakat
JBAF Mayor Polak menyebut masyarakat (Society)
adalah wadah segenap antar hubungan sosial terdiri atas banyak sekali
kolektiva-kolektiva serta kelompok dan tiap-tiap kelompok terdiri atas
kelompok-kelompok lebih baik atau subkelompok.
Hasan
Sadily berpendapat bahwa masyarakat adalah suatu keadaan badan atau kumpulan
manusia yang hidup bersama.
Jelasnya:
masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang telah memiliki tatanan kehidupan,
norma-norma, adat istiadat yang sama-sama ditaati dalam lingkungannya.
Tatanan
kehidupan, norma-norma yang mereka miliki itulah yang menjadi dasar kehidupan
sosial dalam lingkungan mereka, sehingga dapat membentuk suatu kelompok manusia
yang memiliki ciri-ciri kehidupan yang khas. Dalam lingkungan itu, antara orang
tua dan anak, antara ibu dan ayah, antara kakek dan cucu, antara sesama kaum
laki-laki atau sesama kaum wanita, atau antara kaum laki-laki dan kaum wanita,
larut dalam suatu kehidupan yang teratur dan terpadu dalam suatu kelompok
manusia, yang disebut masyarakat.
Suatu
kelompok masyarakat dapat berupa suatu suku bangsa. Bisa juga berlatar belakang
dari berbagai suku.
a. Masyarakat
sederhana.
Dalam
lingkungan masyarakat sederhana (primitif) pola pembagian kerja cenderung
dibedakan menurut jenis kelamin. Pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin,
nampaknya berpangkal tolak dari latar belakang adanya kelemahan dan kemampuan
fisik antara seorang wanita dan pria dalam menghadapi tantangan-tantangan alam
yang buas pada saat itu.
b. Masyarakat
maju.
Masyarakat maju
memiliki aneka ragam kelompok sosial, atau lebih akrab dengan sebutan kelompok
organisasi kemasyarakatan yang tumbuh dan berkembang berdasarkan kebutuhan
serta tujuan tertentu yang akan di capai. Dalam lingkungan masyarakat maju,
dapat di bedakan sebagai kelompok masyarakat non industri dan masyarakat
industri.
1) Masyarakat
non industry. Secara garis besar, masyarakat non
industri dapat di golongkan menjadi dua golongan, yaitu kelompok primer dan
sekunder.
(a) Kelompok
Primer
Dalam kelompok primer, interaksi antar golongan
terjalin lebih intensif, Sebab para anggota kelompok sering berdialog, bertatap
muka , karena itu saling mengenal lebih dekat, Pembagian kerja atau pembagian
tugas pada kelompok menerima serta menjalankan tugas tidak secara paksa, lebih
di titik beratkan pada kesadaran, tanggung jawab para anggota dan berlangsung
atas dasar rasa simpati dan secara suka rela. Contoh-contoh kelompok primer,
antara lain : keluarga, rukun tetangga, kelompok belajar, kelompok agama, dsb.
(b) Kelompok
sekunder
Antara anggota kelompok sekunder,
terpaut saling hubungan tak langsung, formal, juga kurang bersifat
kekeluargaan. Oleh karena itu, sifat interaksi, pembagian kerja, pembagian
kerja antar kelompok di atur atas dasar pertimbangan-pertimbangan rasional,
obyektif.
Contoh-contoh kelompok sekunder,
misalnya: partai politik, perhimpunan serikat kerja/serikat buruh, organisasi
profesi, dsb.
2) Masyarakat
industri
Durkheim mempergunakan
variasi pembagian kerja sebagai dasar untuk mengklasifikasikan masyarakat,
sesuai dengan taraf perkembangannya.
solidaritas di dasarkan pada hubungan saling ketergantungan antara kelompok-kelompok masyarakat yang telah mengenal pengkhususan. Contoh-contoh: tukang roti, tukang sepatu, tukang bubut, tukan las, ahli mesin, ahli listrik, dan ahli dinamo, mereka dapat bekerja secara mandiri.
solidaritas di dasarkan pada hubungan saling ketergantungan antara kelompok-kelompok masyarakat yang telah mengenal pengkhususan. Contoh-contoh: tukang roti, tukang sepatu, tukang bubut, tukan las, ahli mesin, ahli listrik, dan ahli dinamo, mereka dapat bekerja secara mandiri.
Abad
ke-15 sebagai pangkal tolak dari perkembangan pesatnya industrialisasi,
terutama di daratan Eropa.
2.4 Hubungan Antara Individu, Keluarga, dan Masyarakat
Aspek
individu, keluarga, dan masyarakat adalah aspek-aspek sosial yang tidak bisa di
pisahkan. Ke-4 nya mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Tidak akan pernah
ada keluarga, masyarakat, maupun kebudayaan apabila tidak ada individu.
Sementara di pihak lain untuk mengembangkan eksistensinya sebagai manusia, maka
individu di butuhkan keluarga dan masyarakat, yaitu media dimana individu dapat
mengekspresikan aspek sosialnya di samping itu, individu juga membutuhkan
kebudayaan yakni wahana bagi indivudu untuk mengembangkan dan mencapai potensinya
sebagai manusia.
Lingkungan
sosial yang pertama kali di jumpai individu dalam hidupanya adalah lingkungan
keluarga. Di dalam keluargalah individu mengembangkan kapasitas pribadinya. Di
samping itu, melalui keluarga pula
individu bersentuhan dengan berbagai gejala sosial dalam rangka mengembangkan
kapasitasnya sebagai anggota keluarga. Sementara itu, masyarakat merupakan lingkungan sosial
individu yang lebih luas. Di dalam masyarakat, individu mengejewantahkan
apa-apa yang sudah di pelajari dari keluargannya. Mengenai hubungan antara
individu dan masyarakat ini, terdapat berbagai pendapat tentang mana yang lebih
dominan. Pendapat-pendapat tersebut di wakili oleh spencer, pareto, ward,
comte, durkhim, summer, dan weber. Individu belum bisa di katakan sebagai
individu apabila dia belum di budayakan. Artinya hanya individu yang mampu
mengembangkan potensinya sebagai individulah yang bisa di sebut sebagai individu.
Untuk mengembangkan potensi kemanusiaan nya ini atau untuk menjadi berbudaya di
butuhkan media keluarga dan masyarakat.
2.5 Pengertian
Interaksi Sosial
Interaksi
sosial merupakan suatu fondasi dari
hubungan yang berupa tindakan yang berdasarkan norma dan nilai sosial yang berlaku dan diterapkan
di dalam masyarakat. Dengan adanya nilai dan norma yang berlaku, interaksi sosial itu sendiri dapat berlangsung dengan baik jika
aturan - aturan dan nilai – nilai yang ada dapat dilakukan dengan baik. Jika
tidak adanya kesadaran atas pribadi masing – masing, maka proses sosial itu
sendiri tidak dapat berjalan sesuai dengan yang kita harapkan.
Di dalam kehidupan sehari – hari tentunya manusia tidak
dapat lepas dari hubungan antara satu dengan yang lainnya, ia akan selalu perlu
untuk mencari individu ataupun kelompok lain untuk dapat berinteraksi ataupun
bertukar pikiran. Menurut Prof. Dr. Soerjono Soekamto di dalam pengantar sosiologi,
interaksi sosial merupakan kunci rotasi semua kehidupan sosial. Dengan tidak
adanya komunikasi ataupun interaksi antar satu sama lain maka tidak mungkin ada kehidupan
bersama. Jika hanya fisik yang saling berhadapan antara satu sama lain, tidak
dapat menghasilkan suatu bentuk kelompok sosial yang dapat saling berinteraksi.
Maka dari itu dapat disebutkan bahwa interaksi merupakan dasar dari suatu bentuk proses sosial karena
tanpa adanya interaksi sosial, maka kegiatan–kegiatan
antar satu individu dengan yang lain tidak dapat disebut interaksi.
Menurut
Tim Sosiologi (2002), ada empat ciri - ciri interaksi sosial, antara lain :
a.
Jumlah pelakunya lebih dari satu orang.
b.
Terjadinya komunikasi di antara pelaku
melalui kontak sosial.
c.
Mempunyai maksud atau tujuan yang jelas.
d.
Dilaksanakan melalui suatu pola sistem sosial
tertentu.
Syarat terjadinya interaksi sosial antara lain yakni;
1.
Kontak Sosial
Dalam
pengertian sosiologi, kontak sosial tidak selalu terjadi melalui interaksi atau
hubungan fisik, sebab orang bisa melakukan kontak sosial dengan pihak lain
tanpa menyentuhnya, misalnya bicara melalui telepon.
a.
Kontak
sosial dapat bersifat positif atau negative.
b.
Kontak
sosial dapat bersifat primer atau sekunder.
2.
Komunikasi
Komunikasi
merupakan syarat terjadinya interaksi sosial. Hal terpenting dalam komunikasi
yaitu adanya kegiatan saling menafsirkan perilaku (pembicaraan, gerakan-gerakan
fisik, atau sikap) dan perasaan-perasaan yang disampaikan. Ada lima unsur pokok
dalam komunikasi yaitu sebagai berikut.
a. Komunikator, yaitu orang yang
menyampaikan pesan, perasaan, atau pikiran kepada pihak lain.
b.
Komunikan,
yaitu orang atau sekelompok orang yang dikirimi pesan, pikiran, atau perasaan.
c.
Pesan,
yaitu sesuatu yang disampaikan oleh komunikator. Pesan dapat berupa informasi,
instruksi, dan perasaan.
d.
Media,
yaitu alat untuk menyampaikan pesan. Media komunikasi dapat berupa lisan,
tulisan, gambar, dan film.
e.
Efek,
yaitu perubahan yang diharapkan terjadi pada komunikan, setelah mendapatkan
pesan dari komunikator.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Manusia sebagai makhluk individu adalah makhluk yang
mempunyai hak dan kebebasannya terhadap dirinya sendiri. Namun manusia sebagai
individu tidak dapat berdiri sendiri tanpa orang lain. Individu
tidak akan jelas identitasnya tanpa adanya suatu keluarga dan masyrakat yang
menjadi latar belakang keberadaanya. Dalam melakukan hubungan itu lah terjadi
interaki social. Interaksi social merupakan dasar dalam
melakukan hubungan sesama manusia berupa komunikasi yang memiliki tujuan yang
jelas, serta sebagai media penyampai apa yang dirasakan dan keinginananya kepada orang lain.
Dapat dikatakan interaksi social apabila telah memenuhi syarat-syarat dalam
interaksi social.
DAFTAR PUSTAKA
Wahyu, Ramdani, M.Ag.,M.Si. ISD
(Ilmu Sosial Dasar). Pustaka Setia. Bandung : 2007
Soelaeman, M. Munandar. Ilmu
Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Refika Aditama. Bandung : 2004
(13/10/2016)
http://makalahcyber.blogspot.co.id/2012/05/makalah-individu-keluargamasyarakat-dan.html (13/10/2016)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar