Sabtu, 09 Desember 2017

MAKALAH IAD DAN ISBD “HAKIKAT INDIVIDU, KELUARGA, MASYARAKAT DAN INTERAKSI SOSIAL ”.



MAKALAH IAD DAN ISBD
HAKIKAT INDIVIDU, KELUARGA, MASYARAKAT DAN INTERAKSI SOSIAL ”.
Dosen Pengampu: Nency Dela Oktora, S.P, M.Sy


 Kelompok 7 :
M. Adjie Saputra           1602040113
Sindi Ameliasari            1602040150
Ari Wijayanti                1602040006
Adi Saputra                   1602040172

Ekonomi Syariah
Syari’ah Dan Ekonomi Islam

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
JURAI SIWO METRO
TAHUN 2016/2017
 


 
BAB I
PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
Manusia adalah makhluk individu, keluarga, dan masyarakat oleh karenanya manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosial yang hidup berkelompok atau berorganisasi dan saling membutuhkan orang lain. Masyarakat merupakan wadah berkumpulnya individu-individu yang hidup secara sosial, masyarakat terdiri dari ‘Saya’, ‘Anda’ dan ‘Mereka’ yang memiliki kehendak dan keinginan hidup bersama. [Hajjah bainar :64].
Dalam berkehidupan, manusia saling berkomunikasi untuk dapat menyampaikan apa yang dirasakan dan keinginananya kepada orang lain, atau yang sering disebut dengan interaksi sosial. Dapat dikatakan interaksi sosial apa bila, komunikasi dilakukan oleh dua atau lebih manusia baik secara langsung maupun tidak langsung.

1.2     Masalah
Berikut beberapa permasalahan yang timbul dari latar belakang diatas;
1.      Bagaimana hakikat manusia sebagai individu?
2.      Bagaimana hakikat manusia sebagai keluarga?
3.      Bagaimana hakikat manusia sebagai masyarakat?
4.      Bagaimana hakikat manusia sebagai interaksi sosial?

1.3     Tujuan
Dari permasalahan diatas, pemakalah memiliki beberapa tujuan antaralain;
1.   Mengetahui dan memahami hakikat manusia sebagai individu.
2.   Mengetahui dan memahami hakikat manusia sebagai keluarga.
3.   Mengetahui dan memahami hakikat manusia sebagai masyarakat.
4.   Mengetahui dan memahami hakikat manusia sebagai interaksi sosial.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1     Pengertian Individu
Berasal dari kata latin, “individuum” yang artinya tak terbagi. Kata individu merupakan sebutan yang dapat untuk menyatakan satu kesatuan yang paling kecil dan terbatas.
Kata individu bukan berarti manusia sebagai keseluruhan yang tak dapat dibagi  melainkan sebagai kesatuan terbatas yaitu sebagai manusia perseorangan, demikian pendapat Dr. A. Lysen.
Individu menurut konsep Sosiologi berarti manusia yang hidup berdiri sendiri. Individu sebagai mahkluk ciptaan Tuhan di dalam dirinya selalu dilengkapi oleh kelengkapan hidup yang meliputi raga, rasa, rasio, dan rukun.
1.   Raga, merupakan bentuk jasad manusia yang khas yang dapat membedakan antara individu yang satu dengan yang lain, sekalipun dengan hakikat yang sama.
2.   Rasa, merupakan perasaan manusia yang dapat menangkap objek gerakan dari benda-benda isi alam semesta atau perasaan yang menyangkut dengan keindahan.
3.   Rasio atau akal pikiran, merupakan kelengkapan manusia untuk mengembangkan diri, mengatasi segala sesuatu yang diperlukan dalam diri tiap manusia dan merupakan alat untuk mencerna apa yang diterima oleh panca indera.
4.   Rukun atau pergaulan hidup, merupakan bentuk sosialisasi dengan manusia yang  hidup berdampingan satu sama lain secara harmonis, damai dan saling melengkapi. Rukun inilah yang dapat membantu manusia untuk membentuk suatu kelompok social yang sering disebut masyarakat.


2.2     Pengertian Keluarga
Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta "kulawarga". Kata kula berarti "ras" dan warga yang berarti "anggota". Keluarga adalah lingkungan di mana terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah. Keluarga sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab di antara individu tersebut.
Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh pendidikan berpendapat bahwa keluarga adalah kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang hakiki, esensial enak dan berkehendak bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk memuliakan masing-masing anggotanya.
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, dihidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.
Ada beberapa tipe keluarga yakni keluarga inti yang terdiri dari suami, istri, dan anak atau anak-anak, keluarga konjugal yang terdiri dari pasangan dewasa (ibu dan ayah) dan anak-anak mereka, dimana terdapat interaksi dengan kerabat dari salah satu atau dua pihak orang tua. Selain itu terdapat juga keluarga luas yang ditarik atas dasar garis keturunan di atas keluarga aslinya. Keluarga luas ini meliputi hubungan antara paman, bibi, keluarga kakek, dan keluarga nenek.

Ada beberapa fungsi yang dapat dijalankan keluarga, sebagai berikut :
  • Fungsi Pendidikan. Dalam hal ini tugas keluarga adalah mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak bila kelak dewasa.
  • Fungsi Sosialisasi anak. Tugas keluarga dalam menjalankan fungsi ini adalah bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
  • Fungsi Perlindungan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah melindungi anak dari tindakan-tindakan yang tidak baik sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman.
  • Fungsi Perasaan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah menjaga secara instuitif merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
  • Fungsi Religius. Tugas keluarga dalam fungsi ini adalah memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga yang lain dalam kehidupan beragama, dan tugas kepala keluarga untuk menanamkan keyakinan bahwa ada keyakinan lain yang mengatur kehidupan ini dan ada kehidupan lain setelah di dunia ini.
  • Fungsi Ekonomis. Tugas kepala keluarga dalam hal ini adalah mencari sumber-sumber kehidupan dalam memenuhi fungsi-fungsi keluarga yang lain, kepala keluarga bekerja untuk mencari penghasilan, mengatur penghasilan itu, sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga.
2.3     Pengertian Masyarakat
 JBAF Mayor Polak menyebut masyarakat (Society) adalah wadah segenap antar hubungan sosial terdiri atas banyak sekali kolektiva-kolektiva serta kelompok dan tiap-tiap kelompok terdiri atas kelompok-kelompok lebih baik atau subkelompok.
Hasan Sadily berpendapat bahwa masyarakat adalah suatu keadaan badan atau kumpulan manusia yang hidup bersama.
Jelasnya: masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang telah memiliki tatanan kehidupan, norma-norma, adat istiadat yang sama-sama ditaati dalam lingkungannya.
Tatanan kehidupan, norma-norma yang mereka miliki itulah yang menjadi dasar kehidupan sosial dalam lingkungan mereka, sehingga dapat membentuk suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri kehidupan yang khas. Dalam lingkungan itu, antara orang tua dan anak, antara ibu dan ayah, antara kakek dan cucu, antara sesama kaum laki-laki atau sesama kaum wanita, atau antara kaum laki-laki dan kaum wanita, larut dalam suatu kehidupan yang teratur dan terpadu dalam suatu kelompok manusia, yang disebut masyarakat.
Suatu kelompok masyarakat dapat berupa suatu suku bangsa. Bisa juga berlatar belakang dari berbagai suku.
a.       Masyarakat sederhana.
Dalam lingkungan masyarakat sederhana (primitif) pola pembagian kerja cenderung dibedakan menurut jenis kelamin. Pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin, nampaknya berpangkal tolak dari latar belakang adanya kelemahan dan kemampuan fisik antara seorang wanita dan pria dalam menghadapi tantangan-tantangan alam yang buas pada saat itu.
b.      Masyarakat maju.
Masyarakat maju memiliki aneka ragam kelompok sosial, atau lebih akrab dengan sebutan kelompok organisasi kemasyarakatan yang tumbuh dan berkembang berdasarkan kebutuhan serta tujuan tertentu yang akan di capai. Dalam lingkungan masyarakat maju, dapat di bedakan sebagai kelompok masyarakat non industri dan masyarakat industri.
1)      Masyarakat non industry. Secara garis besar, masyarakat non industri dapat di golongkan menjadi dua golongan, yaitu kelompok primer dan sekunder.
(a)   Kelompok Primer 
Dalam kelompok primer, interaksi antar golongan terjalin lebih intensif, Sebab para anggota kelompok sering berdialog, bertatap muka , karena itu saling mengenal lebih dekat, Pembagian kerja atau pembagian tugas pada kelompok menerima serta menjalankan tugas tidak secara paksa, lebih di titik beratkan pada kesadaran, tanggung jawab para anggota dan berlangsung atas dasar rasa simpati dan secara suka rela. Contoh-contoh kelompok primer, antara lain : keluarga, rukun tetangga, kelompok belajar, kelompok agama, dsb.

(b)   Kelompok sekunder
Antara anggota kelompok sekunder, terpaut saling hubungan tak langsung, formal, juga kurang bersifat kekeluargaan. Oleh karena itu, sifat interaksi, pembagian kerja, pembagian kerja antar kelompok di atur atas dasar pertimbangan-pertimbangan rasional, obyektif.
Contoh-contoh kelompok sekunder, misalnya: partai politik, perhimpunan serikat kerja/serikat buruh, organisasi profesi, dsb.
                                                                                   
2)      Masyarakat industri
Durkheim mempergunakan variasi pembagian kerja sebagai dasar untuk mengklasifikasikan masyarakat, sesuai dengan taraf perkembangannya.
solidaritas di dasarkan pada hubungan saling ketergantungan antara kelompok-kelompok masyarakat yang telah mengenal pengkhususan. Contoh-contoh: tukang roti, tukang sepatu, tukang bubut, tukan las, ahli mesin, ahli listrik, dan ahli dinamo, mereka dapat bekerja secara mandiri.
Abad ke-15 sebagai pangkal tolak dari perkembangan pesatnya industrialisasi, terutama di daratan Eropa.

2.4     Hubungan Antara Individu, Keluarga, dan Masyarakat
Aspek individu, keluarga, dan masyarakat adalah aspek-aspek sosial yang tidak bisa di pisahkan. Ke-4 nya mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Tidak akan pernah ada keluarga, masyarakat, maupun kebudayaan apabila tidak ada individu. Sementara di pihak lain untuk mengembangkan eksistensinya sebagai manusia, maka individu di butuhkan keluarga dan masyarakat, yaitu media dimana individu dapat mengekspresikan aspek sosialnya di samping itu, individu juga membutuhkan kebudayaan yakni wahana bagi indivudu untuk mengembangkan dan mencapai potensinya sebagai manusia.
Lingkungan sosial yang pertama kali di jumpai individu dalam hidupanya adalah lingkungan keluarga. Di dalam keluargalah individu mengembangkan kapasitas pribadinya. Di samping itu,  melalui keluarga pula individu bersentuhan dengan berbagai gejala sosial dalam rangka mengembangkan kapasitasnya sebagai anggota keluarga. Sementara itu,  masyarakat merupakan lingkungan sosial individu yang lebih luas. Di dalam masyarakat, individu mengejewantahkan apa-apa yang sudah di pelajari dari keluargannya. Mengenai hubungan antara individu dan masyarakat ini, terdapat berbagai pendapat tentang mana yang lebih dominan. Pendapat-pendapat tersebut di wakili oleh spencer, pareto, ward, comte, durkhim, summer, dan weber. Individu belum bisa di katakan sebagai individu apabila dia belum di budayakan. Artinya hanya individu yang mampu mengembangkan potensinya sebagai individulah yang bisa di sebut sebagai individu. Untuk mengembangkan potensi kemanusiaan nya ini atau untuk menjadi berbudaya di butuhkan media keluarga dan masyarakat.

2.5     Pengertian Interaksi Sosial
Interaksi sosial merupakan suatu fondasi dari hubungan yang berupa tindakan yang berdasarkan norma dan nilai sosial yang berlaku dan diterapkan di dalam masyarakat. Dengan adanya nilai dan norma yang berlaku, interaksi sosial itu sendiri dapat berlangsung dengan baik jika aturan - aturan dan nilai – nilai yang ada dapat dilakukan dengan baik. Jika tidak adanya kesadaran atas pribadi masing – masing, maka proses sosial itu sendiri tidak dapat berjalan sesuai dengan yang kita harapkan.
Di dalam kehidupan sehari – hari tentunya manusia tidak dapat lepas dari hubungan antara satu dengan yang lainnya, ia akan selalu perlu untuk mencari individu ataupun kelompok lain untuk dapat berinteraksi ataupun bertukar pikiran. Menurut Prof. Dr. Soerjono Soekamto di dalam pengantar sosiologi, interaksi sosial merupakan kunci rotasi semua kehidupan sosial. Dengan tidak adanya komunikasi ataupun interaksi antar satu sama lain maka tidak mungkin ada kehidupan bersama. Jika hanya fisik yang saling berhadapan antara satu sama lain, tidak dapat menghasilkan suatu bentuk kelompok sosial yang dapat saling berinteraksi. Maka dari itu dapat disebutkan bahwa interaksi merupakan dasar dari suatu bentuk proses sosial karena tanpa adanya interaksi sosial, maka kegiatan–kegiatan antar satu individu dengan yang lain tidak dapat disebut interaksi.
Menurut Tim Sosiologi (2002), ada empat ciri - ciri interaksi sosial, antara lain :
a.    Jumlah pelakunya lebih dari satu orang.
b.   Terjadinya komunikasi di antara pelaku melalui kontak sosial.
c.    Mempunyai maksud atau tujuan yang jelas.
d.   Dilaksanakan melalui suatu pola sistem sosial tertentu.

Syarat terjadinya interaksi sosial antara lain yakni;
1.      Kontak Sosial
Dalam pengertian sosiologi, kontak sosial tidak selalu terjadi melalui interaksi atau hubungan fisik, sebab orang bisa melakukan kontak sosial dengan pihak lain tanpa menyentuhnya, misalnya bicara melalui telepon.
a.       Kontak sosial dapat bersifat positif atau negative.
b.      Kontak sosial dapat bersifat primer atau sekunder.
2.      Komunikasi
Komunikasi merupakan syarat terjadinya interaksi sosial. Hal terpenting dalam komunikasi yaitu adanya kegiatan saling menafsirkan perilaku (pembicaraan, gerakan-gerakan fisik, atau sikap) dan perasaan-perasaan yang disampaikan. Ada lima unsur pokok dalam komunikasi yaitu sebagai berikut.
a.      Komunikator, yaitu orang yang menyampaikan pesan, perasaan, atau pikiran kepada pihak lain.
b.      Komunikan, yaitu orang atau sekelompok orang yang dikirimi pesan, pikiran, atau perasaan.
c.       Pesan, yaitu sesuatu yang disampaikan oleh komunikator. Pesan dapat berupa informasi, instruksi, dan perasaan.
d.      Media, yaitu alat untuk menyampaikan pesan. Media komunikasi dapat berupa lisan, tulisan, gambar, dan film.
e.      Efek, yaitu perubahan yang diharapkan terjadi pada komunikan, setelah mendapatkan pesan dari komunikator.



















BAB III
PENUTUP
3.1     Kesimpulan
Manusia sebagai makhluk individu adalah makhluk yang mempunyai hak dan kebebasannya terhadap dirinya sendiri. Namun manusia sebagai individu tidak dapat berdiri sendiri tanpa orang lain. Individu tidak akan jelas identitasnya tanpa adanya suatu keluarga dan masyrakat yang menjadi latar belakang keberadaanya. Dalam melakukan hubungan itu lah terjadi interaki social. Interaksi social merupakan dasar dalam melakukan hubungan sesama manusia berupa komunikasi yang memiliki tujuan yang jelas, serta sebagai media penyampai apa yang dirasakan dan keinginananya kepada orang lain. Dapat dikatakan interaksi social apabila telah memenuhi syarat-syarat dalam interaksi social.
















DAFTAR PUSTAKA
Wahyu, Ramdani, M.Ag.,M.Si. ISD (Ilmu Sosial Dasar). Pustaka Setia. Bandung :           2007

Soelaeman, M. Munandar. Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Refika Aditama. Bandung : 2004

(13/10/2016)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar