Sabtu, 09 Desember 2017

FILSAFAT UMUM METODE-METODE FILSAFAT



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Isi filsafat ialah buah pikiran filosof.  Yang tentunya filosof juga mempunyai metode-metode khusus untuk mempermudah dalam mempelajari filsafat. Berfilsafat merupakan suatu cara berfikir berdasarkan pada pengalaman dan pemikiran sendiri untuk memperoleh pengertian sendiri, bukan bersumber pada kepercayaan atau pemujaan terhadap sesuatu yang suci. Berfilsafat merupakan pemahaman yang jernih tentang segala sesuatu, untuk itu dibutuhkan methode dalam mempelajari filsafat.

1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut menimbulkan rumusan masalah baru yakni;
1.      Apa sajakah methode yang digunakan dalam mempelajari filsafat ?
2.      Apa sajakah methode filsafat?
3.      Bagaimana cara mempelajari filsafat?

1.3  Tujuan
Materi ini dibuat dengan tujuan antara lain:
1.      Pembaca diharapkan mengetahui methode yang digunakan dalam mempelajari filsafat;
2.      Pembaca diharapkan mengetahui apa saja methode filsafat;
3.      Pembaca diharapkan mengetahui dan memahami bagaimana cara mempelajari filsafat;


BAB II
LANDASAN TEORI
2.1        Metode Mempelajari Filsafat
Berfilsafat merupakan suatu cara berfikir berdasarkan pada pengalaman dan pemikiran sendiri untuk memperoleh pengertian sendiri, bukan bersumber pada kepercayaan atau pemujaan terhadap sesuatu yang suci. Berfilsafat merupakan pemahaman yang jernih tentang segala sesuatu, untuk itu dibutuhkan methode dalam mempelajari filafat. Isi filsafat ialah buah pikiran filosof. Melukiskan metode-metode yang dipakai, menunjukan bagaimana memulai dan bekerja. Isi filsafat sangat luas, keluasannya disebabkan karena, luas objek filsafat meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada, dan juga karena filsafat merupakan cabang pengetahuan yang tertua, pendapat filsuf tidak ada yang ketinggalan zaman.
Istilah metode berasal dari kata Yunani, yang berasal dari kata methodos dari akar kata meta (dengan) dan hodos (jalan). Methode juga berarti cara berpikir menurut sistem  aturan tertentu. Kata methodos menurut antton bakker berarti penelitian, methode ilmiah, hipotesa ilmiah, uraian, ilmiah. Methose berarti juga cara bertindak menurut system aturan tertentu, lebih husus method adalah cara berpikir menurut system  aturan tertentu (Bakker, 1984:10).
Oleh karena itu, setiap cabang ilmu pengetahuan harus mengembangkan metodologi yang sesuai dengan objek studi ilmu pengetahuan itu sendiri. Ini merupakan suatu keharusan karena sesungguhnya tidak ada satu metode yang cocok digunakan bagi semua bidang ilmu pengetahuan. Filsafat pun memiliki metode sendiri, namun harus ditegaskan pula bahwa filsafat sesungguhnya tidak memiliki metode tunggal yang digunakan oleh semua filsuf sejak zaman purba hingga sekarang ini. Dapat dikatakan bahwa jumlah filsafat adalah sebanyak jumlah filsufnya. Sangat banyak metode filsafat yang digunakan oleh para filsuf dari dahulu sampai sekarang ini.
Untuk memudahkan mempelajari filsafat ada beberapa macam methode yaitu methode sistemaris, methode historis, methode kritis (Tafsir: 2013 :20)
1.      Metode Sistematis
Menggunakan metode sistematis berarti orang membahas langsung isi persoalan dari filsafat dengan tidak mementingkan  urutan zaman penganjurnya masing-masing. Orang membagi persoalan-persoalan filsafat itu dalam bidang-bidang tertentu. Misalnya dalam bidang logika hanya dipersoalkan  mana yang benar dan mana yang salah menurut pemikiran akal, kemudian di bidang etika dipersoalkan perbuatan baik dan buruk. Pembagian besar ini dibagi lebih khusus dalam sistematika filsafat. Tatkala membahas setiap cabang atau subcabang itu, aliran-aliran akan terbahas. Dengan belajar filsafat melalui metode ini perhatian kita terpusat pada isi filsafat, bukan pada tokoh ataupun pada periodenya.
         Methode sistematik, para filsuf itu di konfrontir satu dengan yang lain pendapatnya, dalam cabang-cabang tertentu. Contohnya dalam bidang etika dikonfrontir pendapat filsuf zaman klasik (plato) dngan filsuf zaman pertengahan (al-farabi) dengan filsuf dewasa ini (Japers) dengan tidak usah mempersoalkan periode masing-masing. Berfilsafat mencari arti dan maksud filsafat dari kodrat manusia (Sudiarja, 2006: 971)

2.      Metode Historis
Metode historis digunakan bila orang ingin mempelajari perkembangan aliran-aliran filsafat sejak dahulu hingga sekarang (Bakry :1986) dalam metode ini banyak membicarakan tokoh demi tokoh menurut kedudukannya dalam sejarah missal, dimulai dari membicarakan filsafat thales, didalamnya berbicara riwayat hidupnya, pokok ajarannya, baik dalam teori pengetahuan, teori hakekat maupun dalam teori nilai, lantas dilanjutkan dengan membicarakan Anaximandros, lalu Socrates, lalu Rousseau dan seterusnya sampai tokoh-tokoh kontemporer. Tokoh dikenalkan kemudian  ajarannya. Mengenalkan tokoh memang perlu karena ajarannya biasanya berkaitan erat dengan lingkungan, pendidikan, kepentingannya.
Dalam menggunakan metode historis dapat pula menempuh cara lain yaitu dengan cara membagi babakan sejarah filsafat. Misalnya filsafat kuno (masa Thales – Plotinus), lalu filsafat abad pertengahan setelah itu filsafat abad modern. Mempelajari filsafat dengan menggunakan metode historis berarti mempelajari filsafat secara kronologis menurut waktunya masing-masing. Untuk pemula metode ini baik digunakan.

3.      Metode Kritis
Metode Kritis disebut juga metode dialektik. Dipergunakan oleh Socrates dan Plato. Harold H Titus mengatakan bahwa metode ini merupakan metode dasar dalam filsafat. Socrates (470-399 SM) menganalisis objek-objek filsafatnya secara kritis. Berusaha menemukan jawaban yang mendasarkan tentang objek analisanya dengan pemeriksaan yang amat teliti dan terus-menerus. Asumsi dasarnya adalah bahwa setiap orang tahu akan hakekat. Jadi Socrates menolong orang untuk melahirkan pengetahuan hakekat tersebut dengan jalan mengajak dialog yang dilakukan secara cermat. Dialog ini dilakukan dengan menarik, penuh humor, segar dan sederhana. Socrates mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tajam dan terarah. Lawan dialog giring kearah persoalan, makin lama makin mendalam kearah intinya.
Lewat proses inilah orang didorong untuk melahirkan pengetahuan yang dimiliki. Diteliti konsistensinya, dijernihkan keyakinan-keyakinannya, dibuka kesadarannya sehingga orang memahami keadaan dirinya. Entah dia memiliki pengetahuan yang sebenarnya atau dia kurang tahu.
Metode kritis (Sokrates dan Plato) digunakan oleh mereka yang mempelajari filsafat tingkat intensif. Metode ini dilakukan dengan cara melalui percakapan-percakapan (dialog). Pembicaraan filsafat dimulai dengan pendekatan sistematika dan historis, langkah awal dimulai dengan memahami isi ajaran, kemudian di coba mengajukan kritik. Kritik dapat menentang dan dapat juga dengan dukungan terhadap  ajaran filsafat yang sedang dipelajari.
Dalam mengeritik seseorang dapat menggunakan pendapat sendiri ataupun menggunakan pendapat filosof lain. Lewat cara ini, semua orang dianjurkan secara bebas untuk mengaitkan seluruh pemikiran dengan kondisi dirinya, dengan kesadaran dan hasratnya yang murni.

Kemudian ada methode untuk memecahkan problema-problema filsafat, antara lain metode dedukasi, metode induksi, metode dialektika. Metode deduksi merupakan suatu metode berfikir dimana  suatu kesimpulan ditarik dari prinsip-prinsip umum dan kemudian diterapkan kepada sesuatu yang bersifat khusus. Metode induksi suatu metode berpikir dimana suatu kesimpulan ditarik dari suatu prinsip khusus, diterapkan pada sesuatu yang bersifat khusus. (Mat jalil, 2015:21)

2.2        Methode Filsafat
Methode filsafat tidak dapat dipisahkan methode dan objek formal, sebab setiap filsafat menentukan objek formal menurut pemahaman dan logikanya sendiri. Filsafat tidak menerima kewibawaan dari luar filsafat yang mau membahasnya, begitu juga filsafat tidak menerima kompetensi lahiriah untuk menilai methodenya, filsafat berbicara tentang methodenya sendiri.
Selain metode kritis bagi mereka yang ingin mempelajari filsafat tindak lanjut juga terdapat beberapa metode :
a.       Methode Intuitif Plotinus, Henri Bergson.
Methode ini disebut juga methode mistik, pemakaian mistik berkaitan dengan perkembangan baru, sikap kontemplatif meresapi seluruh methode berpikir Plotinus, filsafatnya bukan hanya doktrin melainkan a way of life, Plotinus berusaha menyemangati dan menghantar ke hal-hal rohani. Methode ini menuntut mengerjakan suatu tobat mengenai kebiasaan, manusia harus mengambil distansi, berjauh dari logika dan menyerahkan diri kepada kemurnian kenyataan yaitu gerakan, kontemplasi menuju dinamika bergelombang, tujuannya kenaikan dari yang materil dan beku ke yang spiritual dan bebas.
b.      Metode Skolatik, Thamas Aquinas.
Methode ini biasa disebut methode sintesis-deduktif, bertitik tolak dengan prinsif-prinsif sederhana yang sangat umum diturunkan hubungan-hubungan yang lebih komplek dan khusus. Methode sekolastik dipakai untuk menguraikan methode mengajar, seperti terjadi di sekolah-sekolah dan universitas-universtas.
c.       Methode geometris, Rene Descartes.
Descartest menyebut methodenya dengan analitis, menurutnya ada ketersusunan natural dalam kenyataan, berhubungan dengan pengertian manusia, ketersusunan itu sesuai dengan cara penemuan, yaitu cara menghadapi problem baru. Kedudukan methode Descartes bukan hanya sebagai penelitian filsafat tetapi dapat digunakan juga sebagai penelitian rasional.
d.      Methode empiris, hobbes, lockey, Berkeley.
Empris pengalaman menyajikan pengertian benar, maka semua pengertian, ide-ide dalam instropeksi dibandingkan dengan cerapa-cerapan  (impressi) dan kemudian disusun bersama secara geometris (Bakker, 1984: 22). Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri dan mengecilkan peran akal. Istilah empirisme diambil dari bahasa yunani empeiria yang berarti pengalaman. Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme. Akan tetapi tidak berarti bahwa rasionalisme ditolak sama sekali. Dapat dikatakan bahwa rasionalisme dipergunakan dalam kerangka empirisme, atau rasionalisme dilihat dalam bingkai empirisme.


e.       Methode Eksprimentil, David Hume.
Methode hume ini sukses dalam ilmu alam. Semua pengertian dan kepastian berasal dari observasi tingkah laku dan intropeksi tentang proses-proses psikologi dengan methode ini dapat disusun suatu filsafat.
f.       Methode Kritis Transendetal Imanuel Khant
Immanuel Kant (1724-1804) dalam filsafat mengembangkan metode kritis transcendental. Kant berpikir tentang unsur-unsur mana dalam pemikiran manusia yang berasal dari pengalaman dan unsur-unsur mana yang terdapat dalam rasio manusia. Ia melawan dogmatisme.
Dalam metode Kant juga dipergunakan keragu-raguan. Kant meragukan kemungkinan dan kompetensi metafisik. Metafisik tidak pernah menemukan metode ilmiah yang pasti untuk memecahkan problemnya. Kant menerima nilai objektif dari ilmu-ilmu positif karena mendatangkan kemajuan dalam hidup sehari-hari. Demikian juga tentang nilai objektif agama dan moral. Sebab mendatangkan kemajuan dan kebahagiaan. Karena itulah Kant menerima dan meneliti dasar-dasar yang bukan empiris, tetapi sintetis apriori.
g.      Methode Dialektis Hegel
Methode dialektik yakni suatu cara berfikir dimana suatu kesimpulan diperoleh melalui tiga jenjag penalaran: tesis, antithesis, dan sintesis. Metode ini berusaha untuk mengembakan suatu contoh argument yang didalamnya terjalin implikasi bermacam-macam proses (sikap) yang saling mempengaruhi. Argument akan menunjukan bahwa setiap pross tidak menyajikan  pemahaman yang sempurna tentang kebenaran. Dengan demikian, timbullah pandangan alternative yang baru. Pada setiap tahap dari dialektik ini seseorang memasuki lebih dalam kepada problema asli, dan dengan demikian ada kemungkinan untuk lebih mendekati kebenaran.
h.      Methode Fenomenologis Husserl.
Bagi Husserl methode fenomenologis yang otentik dengan observasi dan analisa teliti artinya setiap ungkapan sehari-hari atau ilmiah berakar dalam suatu pengalaman langsung yang berakar dalam suatu pengalaman langsung yang bersifat utuh dan kaya, ungkapan terbatas hanya menampakannya secara terbatas dan bercacat, maka melalui analisa ungkapan pengalaman terbatas dapat ditemukan kembali pengalaman terbatas dapat  ditemukan kembali pengalaman lebih fundamental.
Fenomenologis mengadakan refleksi mengenai pengalaman langsung. Melakukan penerobosan untuk mencari pengertian sebenarnya atau yang hakiki. Kita harus menerobs gejala-gejalanya yang menampakkan diri sampai pada hakekat obyek.
i.        Methode Analitika Bahasa, Ludwig Witgenstein
Analisa bahasa merupakan methode netral, tidak mengandaikan salah satu efistemologi, filsafat atau metafisika. Beroprasi tanpa  prasangka  segala hasil dan kesimpulan hanya berdasarkan penelitian bahasa yang logis.

2.3        Cara Mempelajari Filsafat
Langkah mempelajari filsafat atau tatkala membaca buku filsafat untuk memahaminya adalah dengan cara: carilah pertanyaannya, temukan bagaimana pertanyaan itu dijawab dan bagaimana jawaban itu dijawab dan bagaimana jawaban itu digugat dan di perbaiki,atau bagaimana pertanyaan itu digugat dan diperbaiki dari masa ke masa.
Langkah penting dalam mempelajari filsafat adalah sebagai berikut:
1.      Filsafat merupakan pemikiran biasa yang dapat digugat dipertanyakan ulang, karena filsafat bukan barang yang suci. Filsafat bukan suatu prinsip-prisip yang menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang kebenarannya mutlak. Filsafat bukan pemikiran yang selesai filsafat selalu menyisahkan pertanyaan baru, sehingga pemecahan-pemecahan yang tuntas dalam filsafat tidak di mungkinkan.
2.      Pemikiran filsafat mengundang seseorang untuk selalu terlibat langsung. Pemecahan persoalan filsafat mendorong seseorang agar meneruskan apa yang sudah dimulai, karena itu cobalah untuk menyanggah, ujilah kebenaran yang dikemukakan oleh para filsuf.
3.      Rasakan dulu pendapat orang lain dengan tanpa prasangka, setelah itu bandingan dengan keyakinan diri sendiri menjadi ukuran tidak akan menemukan mutiara yang ditawarkan orang lain.
4.      Seorang filsuf tidak pernah merasa benar sendiri, karena jiwa seseorang tidak sempurna, maka pengetahuannya pun tidak sempurna .
5.      Langkah mempelajari filsafat terakhir ialah memperhatikan pertanyaan jangan pernah menanyakan maknanya kepada sang filsuf sebab bila menanyakan makna kepada filsuf. Anda akan mendapat jawaban pertanyaan pula.
Selain dari beberapa langkah tersebut, langkah penting yang harus dimiliki ialah niat dan tekad, serta semangat untuk mempelajari filsafat. Tanpa itu, mungkin anda akan sangat sulit dalam mempelajari filsafat. Jika ada hal yang tidak dimengerti tanyalah kepada para filsuf atau orang yang cukup mengerti dalam bidang filsafat, dikarenakan sebagian dari mereka tentunya sudah berpengalaman.









BAB III
PENUTUP
3.1     Kesimpulan
   Filosof membuat beberapa metode untuk memudahkan para filosof itu sendiri dalam mempelajari filsafat. Seiring berjalannya waktu metode tersebut semakin berkembang menurut gayanya masing-masing, dan mulai dipelajari secara umum. Bagi orang-orang yang ingin mempelajari filsafat, dapat memilih sendiri metode yang diinginkan sesuai dengan tingkat pemahaman masing-masing.
Kesimpulan dalam pembahasan keilmuan metode filsafat berarti cara atau prosedur yang di tempuh dalam rangka mencapai kebenaran. Metode tersebut dimaksudkan agar langkah-langkah pencarian kebenaran dapat dilaksanakan secara tertib dan terarah, sehingga dapat hasil yang optimal.
   Metode mempelajari filsafat dibagi menjadi tiga yaitu sistematis, historis, dan kritis.perbedaan filsafat dengan ilmu-ilmu lain,keduanya mencari pengetahuan yang pasti, eksak teratur dan sistematis, tetapi kepastian dan keeksakan filsafat tidak mungkin diuji seperti ilmu yang diuji dengan riset eksperimen, karena filsafat pengetahuan tersusun dari hasil berpikir yang radikal, sistematis, dan universal maka keradikalan , kesistematisan dan keuniversalan pemikiran yang dapat mengujinya. (Mat jalil, 2015: 19).








DAFTAR PUSTAKA
Jalil, Mat, 2015, Filsafat Umum, Yogyakarta: IDEA Press Yogyakarta       
Tafsir, Ahmad, 2012, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Chapra,          Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Ravel, Geschiendenis van de westerse Filosofie, dikutip dari Beekman, Filsafat para Filsuf Berfilsafat, Erlangga, hal. 56

Bakhtiar, Amsal, 2012, Filsafat Ilmu, Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar