BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Tasawuf adalah bagian dari syariat islam, yaitu
perwujudan dari ihsan. Salah satu dari tiga kerangka ajaran Islam yang lain,
yaitu Iman dan Islam.
Tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara
kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan
selalu bersikap bijaksana. Sikap jiwa yang demikian itu pada hakikatnya adalah
akhlak mulia.
1.2
Rumusan Masalah
Dari latar belakang
tersebut muncul beberapa permasalahan, yakni;
1.
Apakah arti Tasawuf?
2.
Bagaimanakah
asal-usul dan manfaat tasawuf?
3.
Bagaimana
historis pertumbuhan dan perkembangan tasawuf?
1.3
Tujuan
Dari rumusan masalah
tersebut, pemakalh membuat makalah ini bertujuan untuk;
1.
Agar pembaca
mengetahui arti Tasawuf.
2.
Agar pembaca
mengetahui agar pembaca mengetahui.
3.
Agar pembaca
mengetahui historis pertumbuhan dan perkembangan tasawuf.
BAB II
LANDASAN MATERI
2.1
Asal-usul
Kata Tasawuf
Lafal kata tasawuf merupakan mashdar (kata jadian) bahasa
arab dari fi’il (kata kerja) menjadi kata merupakan (kata kerja tambahan dan
huruf), yaitu ‘ta’ dan ‘tasydid’, yang sebenarnya berasal dari (kata kerja asli
dari tiga huruf), yang berbunyi menjadi (mashdar); artinya ‘mempunyai bulu yang
banyak’. Perubahan dari kata menjadi kata yang dalam kaidah bahasa arab,
berarti (menjadi) berbulu yang banyak, dengan arti sebenarnya adalah menjadi
sufi yang ciri khas pakaiannya selalu terbuat dari bulu domba (wol).
Para ahli berpendapat bahwa asal usul kata tasawuf dibagi
menjadi tujuh bagian:
1)
Pertama,
tasawuf berasul dari shuf, yang berarti “wol kasar” karena orang-orang sufi
selalu memakai pakaian tersebut sebagai lambang kesederhanaan.
2)
Kedua,
tasawuf berasal dari akar kata shafa’, yang berarti bersih. Disebut sufi karena
hatinya tulus dan bersih dihadapan tuhannya, tujuan sufi adalah membersihkan
batin melalui latihan-latihan yang lama dan ketat.
3)
Ketiga,
tasawuf berasal dari istilah yang dikonotasikan dengan ahl- assuffah, yaitu
orang-orang yang tinggal disuatu kamar disamping dimasjid Nabi di Madinah.
4)
Keempat,
tasawuf berasal dari kata shopos. Kata tersebut berasal dari yunani yang
berarti hikmah.
5)
Kelima,
tasawuf berasal dari kata shaf. Makna shaf dinisbahkan kepada orang-orang yang
ketika shalat selalu berada di shaf yang paling depan.
6)
Keenam,
kata tasawuf berkaitan dengan kata ash-shifah karena para sufi sangat
mementingkan sifat-sifat terpuji dan berusaha keras meninggalkan sifat-sifat tercela.
7)
Ketujuh,
tasawuf berasal dari kata ‘shaufanah’ yaitu sebangsa buah-buahan kecil yang
berbulu-bulu dan banyak tumbuh dipadang pasir di tanah arab, dimana pakaian
kaum sufi itu berbulu-bulu seperti buah itu pula, dalam kesederhanaannya.
Menurut
Harun Nasution asal usul kata tasawuf dibagi menjadi 5 istilah :
1.
Al Suffah (Ahl Al suffah) yaitu orang yang
ikut berpindah dengan Nabi SAW dari Mekah keMadinah. Hal ini menggambarkan
bahwa keadaan orang yang rela mencurahkan jiwa dan raganya, harta bendanya dan
lain sebagainya hanya untuk Allah SWT.
2.
Shaf yang berarti barisan. Menggambarkan
seseorang yang selalu berada dibarisan depan dalam beribadah kepada Allah dan
melakukan amal kebajikan.
3.
Sufi yang berarti suci. Menggambarkan
orang yang selalu memelihara dirinya dari berbuat dosa dan maksiat.
4.
Sophos yang berarti hikmah (berasal dari
bahasa Yunani). Menggambarkan keadaan jiwa yang senantiasa cenderung kepada
kebenaran.
5.
Suf yang berarti kain wol.
Menggambarkan orang yang hidup sederhana dan tidak mementingkan dunia.
2.2
Pengertian Tasawuf
Dari
segi bahasa terdapat sejumlah kata atau istilah yang dihubung-hubungkan dengan
para ahli untuk menjelaskan kata tasawuf. Harun nasution, misalnya meneyebutkan
lima istilah yang berkenaan dengan tasawuf, yaitu al-suffah (ahl al-suffah), (orang yang ikut pidah dengan nabi dari
Makkah ke Madinah), saf (barisan), sufi (suci), Sophos (bahasa yunani: hikmat), dan suf (kain wol).
Dari
segi linguistic (kebahasaan) ini segera dapat dipahami bahwa tasawuf adalah
sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana,
rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana. Sikap jiwa yang
demikian itu pada hakikatnya adalah akhlak mulia.
Definisi
tasawuf dari segi istilah atau menurut para ahli dibedakan menurut sudut
pandang masing-masing:
1.
Jika dilihat
dari sudut pandang manusia sebagai makhluk yang terbatas, maka tasawuf dapat
didefinisikan sebagai upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh
kehidupan dunia, dan memusatkan perhatiannya hanya kepada Allah SWT.
2.
Jika dari sudut
pandang manusia sebagai makhluk yang harus berjuang, maka tasawuf dapat
didefinisikan sebagai upaya memperindah diri dengan akhlak yang bersumber dari
ajaran agama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.
3.
Jika dari sudut
pandang mausia sebagai makhluk ber-Tuhan, maka tasawuf dapat didefinisikan
sebagai kesadaran fitrah (ke-Tuhanan) yang dapat mengarahkan jiwa agar tertuju
kepada kegiatan-kegiatan yang dapat menghubungkan manusia dengan Tuhan.
Jika tiga definisi tasawuf diatas di
hubungkan, maka segera tampak bahwa tasawuf pada intinya adalah upaya melatih
jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan dirinya dari pengaruh
kehidupan dunia, sehingga tercermin akhlak yang mulia dan dekat dengan Allah
SWT. Dengan kata lain, tasawuf adalah bidang kegiatan yang berhubungan dengan
pembinaan mental rohaniah agar selalu dekat dengan Tuhan. Inilah
esensi atau hakikat tasawuf.
2.3
Sumber Tasawuf
Berikut
sumber tasawuf menurut kaum orientalist, yakni;
1.
Unsur islam
Secara
umum ajaran Islam mengatur kehidupan yag bersifat lahiriah atau jasadiah, dan
kehidupan yang bersifat batiniah. Pada unsur kehidupan yang beriat batiniah
itulah kemudian lahir tasawuf. Unsur kehidupan tasawuf ini mendapat perjatian
yang cukup besar dar sumber ajaran islam, al- Qur’an dan As-Sunnah serta
praktik kehidupan nabi dan para sahabatnya salah satunya Tuha dapat memeberikan
cahaya kepada orang yang dikehendakinya (lihat Q.S Al-Nur [24]: 35).
Al-
sunnah pun banyak berbicara tentang kehidupan rohaniah. Salah satunya dalam
hadis berikut;
“ Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi maka
aku menjadikan makhluk agar mereka mengenal-Ku.”
Hadis tersbut memberikan petunjuk bahwa
alam raya, termasuk kita ini adalah merupakan cermin Tuhan, atau bayangan
Tuhan. Tuhan ingin mengenal dirinya melalui penciptaan alam ini. Dengan
demikian, dalam alam raya ini terdapat potensi ketuhanan yang dapat
didayagunakan untuk mengenal-Nya. Dan apa yang ada di alam raya ini pada
akhirnya akan kembali kepada Tuhan.
Selanjutnya
di dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Juga terdapat petnjuk yang menggambarkan
sebagai seorang sufi. Nabi Muhammad SAW. Telah melakukan perasingan diri ke Gua
Hira’ menjelang datangnya wahu. Selama di Gua Hira yang ia kerjakan hanyalah
tafakur, beribadah dan hidup sebagai seorang zahid. Beliau hidup sederhana,
terkadang mengenakan pakaian tambalan, tidak memakan makanan atau meminum
minuman kecuali yang halal, dan setiap malam senantiasa beribadah kepada Allah
SWT, sehingga Siti Aisyah, istri beliau
bertanya: “mengapa engkau berbuat begini ya rosulullah, sedangka Allah
senantiasa mengampuni dosamu.” Nabi menjawab: “apakah engkau tidak ingin agar aku menjadi
hamba yang bersyukur kepada Allah”.
Di
kalangan para sahabat dan masyarakat pun ada pula orang yang mengikuti praktik
bertasawuf senagaimana yang diamalkan oleh Nabi Muhammad SAW. Diantaranya Abu
Bakar Ash-shidiq, Usaman Ibn Affan dan Hasan Al-Basri. Bersamaan dengan tu pada
masa ini timbul pula aliran-aliran keagamaan. Untuk memendung aliran ini, maka
timbulah kelompok yang tidak mau terlibat dalam penggunaan akal untuk membahas
soal-soal tasawuf. Kelompok yang terakhir ini berusaha mengasingkan diri dan
memusatkan diri untuk beribadah kepada Allah.
Dari informasi tersebut terlihat bahwa
munculnya tasawuf di kalangan umat islam bersumber pada dorongan ajaran islam
dan factor situasi osial dan sejarah kehidupan masyarakat pada umumnya.
2.
Unsur Luar Islam
Para
orientalist barat menyimpulkan bahawa adanya unsur luar islam masuk ke dalam
taswuf itu disebabkan karena secara historis agama-agama tersebut telah ada
sebelum islam, bahkan banyak dikenal oleh masyarakat Arab yang kemudian mauk
islam. Akan tetapi, kita dapat mengatakan bahwa boleh saja orang Arab
terpengaruh oleh agama-agama tersebut, namun tidak secara otomatis
memepengaruhi kehidupan tasawuf, karena para penyusun lmu tasawuf atau oran
yang kelak menjadi sufi itu bukan berasal dari mereka.
Unsur-unsur luar islam yang diduga mempengaruhi
tasawuf islam itu selanjutnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.
Unsur Masehi
Unsur
tasawuf yang diduga memengaruhi tasawuf islam adalah sikap fakir. Menurut
keyakinan Nasrani bahwa Isa bin Maryam adalah seorang yang fakir, dan Injil
juga disampaikan kepada orang fakir. Selanjutnya adalah sikap tawakkal kepada
Allah dalam soal penghidupan terlihat
pada peranan syaikh yang menyerupai pendeta, bedanya pendeta dapat menghapus
dosa.
b.
Unsur Yunani
Metode
berfikir filsafat yunani telah ikut memengaruhi polaberpikir sebagian orang
islam yang ingin berhubungan dengan Tuhan. Kalau pada bagian uraian dimulai
perkembangan tasawuf ini baru dalam taraf amaliah (akhlak) dalam pengaruh
filsafat Yunani ini maka uraian-uraian
tentang tasawuf itu pun tela berubah menjadi tasawuf filsafat. Hal ini dapat
dilihat dari pemikiran al-Farabi, al-Kndi, Ibn-sina terutama dalam uraian
mereka tentang filsafat jiwa.
Ungkapan Neo Platonis; “kenallah dirimu
dengan dirimu” diambil oleh para sufi dan diantara para sufi berkata: “Siapa
yang mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya”. Tidak salah lagi bagi
kellompok Neo Shopi (Sufi berketuhanan dan fiosof) seperti al-Farabi
deitentukan pengaruh nyata filsafat dalam cara berpikir mereka.
c.
Unsur Hindu/Budha
Menurut
Qamar Kailani pendapat ini terlalu ekstrim sekali kalau ditereima bahwa ajaran
itasawuf berasal dari Hidu/Budha, berarti pada zaman nabi Muhammad SAW. Telah
berkembang ajaran Hind/Budha itu ke mekkah,padahal sepanjang sejarah belum ada
kesimpulan seperti itu.
d.
Unsur Persia
Kehiduan
kerohanian Arab masuk ke Persia itu terjadi melalui ahi-ahli tasawuf di dunia.
Namun barangkali ada kesamaan antara istilah zuhud di arab dengan zuhud menurut
agama Manu dan Mazdaq dalam agama Zarathustra.
2.4
Manfaat Tasawuf
Adapun
manfaat tasawuf yang dapat diperoleh, antara lain sebagai berikut.
1.
Membersihkan
hati dalam berinteraksi dengan Allah.
Esensi
tasawauf adalah tazhkiyah an-nafs yang
artinya membersihkan jiwa dari kotoran-kotoran. Dengan tasawuf, hati seorang
menjadi bersih sehingga dalam berinteraksi kepada Allah akan menemukan
kedamaian hati dan ketenangan jwa.
2.
Membersihkan
diri dari pengaruh materi.
Melalui
tasawuf, kecintaan seseorang yang berlebihan terhadap materi atau urusan
duniawi lainnya akan dibatasi. Memiliki harta benda ini tidaklah semata-mata
untuk memenuhi nafsu, tetapi lebih mendekatkan diri kepada Allah.
3.
Menerangi jiwa
kegelapan
Penyakit
resah, gelisah dan sifat-sifat buruk dalam diri manusia dapat diembuhkan dengan
ajaran agama, khususnya ajaran yang berkaitan dengan olah jiwa manusia, yaitu
tasawuf dimana ketentraman batin atau jiwa yang menjadi sasarannya.
4.
Memperteguh dan
menyuburkan keyakinan agama
Keteguhan
hati tidak dapat dicapai tanpa adanya siraman jiwa. Jika ajaran taawuf
diamalkan oleh seorang muslim, ia akan bertambah teguh keimanannya dalam
memperjuangkan agama islam.
5.
Mempertinggi
akhlak manusia
Mempelajari
dan mengamalkan tasawuf sangat tepat untuk kaum muslimin karena dapat
mempertinggi akhlak, baik dalam kaitan interaksi antara manusia dan Tuhan,
maupun interaksi antar sesama manusia.
2.5
Pertumbuhan Tasawuf
Dalam
sejarah perkembangannya, para ahli membagi tasawuf menjadi dua. Pertama, tasawuf Akhlaki, ada yang
menyebutkan sebagai tasawuf yang banyak dikembangkan oleh kaum sallaf, karena
mengarah pada teori-teori perilaku. Kedua,
tasawuf Falsafi, yaitu tasawuf yang mengarah pada teori-teori yang rumit dan
memerlukan pemahaman mendalam. Tasawuf Falsafi ini banyak dikembangkan para
sufi yang berlatar belakang sebagai filsuf.
Perkembangan taswuf dalam islam telah
mengalami beberapa fase. Pertama, fase
askestisme (zuhud) yang tumbh pada aba I dan II Hijriah. Sikap yag asketisme
(zuhud) banyak dipandang sebagai pengantar munculnya tasawuf. Pada fase ini terdapat
individu-individu dari kalangan muslim yang lebih memusatkan dirinya pada
ibadah. Mereka menjalankan konsep asketis dalam kehidupan, yaitu tidak
mementingkan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Mereka lebih banyak beramal
untuk hal-hal ang berkaitan dengan kehidupa akhirat, yang lebih memusatkan diri
pada jalur khidupan dan tingka laku yang asketis. Tokoh yang sangat popular
dari kalangan ini adalah Hasan Al-Basri
(w. 110 H) dan Rabi’ah Al-Adawiyyah (w. 185 H). kedua tokoh ini dijuluki
sebagai zahid.
Pada
abad III Hijriah, para sufi mulai menaruh perhatian terhadap hal-hal yang
berkaitan dengan tingkah laku. Perkembangan doktrin-doktrin dan tingkah laku sufi
ditandai dengan upaya menegakkan moral ditengah terjadinya dekdensi moral yang
berkembang saat itu, sehingga di tangan mereka tasawuf pun brkemban menjadi
ilmu moral keagamaan atau ilmu akhlak keagamaan. Pembahasan mereka tentang
moral, akhirnya mendorongnya untuk semakin mengkaji hal-hal yang berkaitan
dengan akhlak.
Kemudian
pada abad III Hijriah muncul jenis tasawuf lain yang lebih menonjolkan
pemikiran yang eksklusif. Golongan ini diwakili oleh Al-Hallaj, yang kemudian
dihukum mati karena menyatakan pendapatnya mengenai hulul (pada 309 H). Boleh jadi, Al-Hallaj mengalami peristiwa nahas
seperti itu dikarenakan paham hulul-nya
yang sangat kontroversial dengan kenyataan dimasyarakat yan tengah
menggandrungi jenis tasawuf akhlaki.
Pada
abad V Hijriah muncul imam al-Ghozali, yang sepenuhnya hanya menerima tasawuf
berdasarkan Alquran dan sunnahbertujuan aksetisme (kehisupan sederhana,
pelurusan jiwa, serta pembinaan moral.
Abad
VI Hijriah, sebagai akibat pengaruh kepribadian Al-Ghazali yang begitu besar,
pengaruh tasawuf sunni meluas ke seluruh pelosok dunia Islam. Muncul juga
sekolompok aliran tasawuf yang memadukan tasawuf mereka dengan filsafat, degan
teori-teori mereka yang setengah-setengah. Artinya tidak data dikatakan murni
tasawuf, tetapi juga tidak dapat disebut murni filsafat.
Dengan demikian aliran tasawuf terbagi
menjadi dua, yaitu tasawuf sunni yang lebih berorientasi pada pengokoan
filososfis dengan ungkapan-ugkapan ganjilnya (syatahiyat) dalam ajaran-ajaran yang dikembangannya.
Ungkapan-ungkapan Syatahiyat itu
bertolak dari keadaan fana menuju pernyataan tentang terjadinya penyatuan atau hulul.
Dengan
demikian, abad V Hijriah merupakan tonggak yang menetukan kejayaan tasawuf
suni. Pada abad tersebut, tasawuf sunni tersebar luas dalam kalangan dunia
islam. Fondasinya begitu dalam terpancang untuk jangka lama pada berbagai
lapisan masyarakat Islam.
2.6
Perkembangan Tasawuf
1. Pada abad pertama dan kedua Hijriyah
a. Perkembangan tasawuf pada masa
sahabat
Para
sahabat juga mencontohi kehidupan rosulullah yang serba sederhana, dimana hidupnya
hanya semata-mata diabdikan kepada tuhannya. Beberapa sahabat yang tergolong
sufi di abad pertama, dan berfungsi sebagai maha guru bagi pendatang dari luar
kota Madinah, yang tertarik kepada kehidupan shufi, para sahabat-sahabat
tersebut antara lain, Khulafaurrasyidin, Salman Al-Farisiy, Abu Dzarr
Al-Ghifary, dll.
b. Perkembangan tasawuf pada masa
tabi’in
Ulama-ulama
sufi dari kalangan tabi’in adalah murid dari ulama-ulama sufi dari kalangan
shahabat. Kalau berbicara tasawuf dan perkembangannya pada abad pertama, dengan
mengemukakan tokoh-tokohnya dari kalangan shahabat, maka pembicaraan
perkembangan tasawuf pada abad kedua dengan tokoh-tokohnya pula. Tokoh-tokoh
ulama sufi Tabi’in antara lain, Al-Hasan Al-Bashry,Rabi’ah Al-Adawiyah, Sufyaan
bin sa’id Ats-Tsaury, Daud Ath-Thaaiy, dll.
2. Perkembangan tasawuf pada abad
ketiga hijriyah
Pada
abad ini perkembangan tasawuf pesat, hal ini ditandai dengan adanya segolongan
ahli tasawuf yang mencoba menyelidiki inti ajaran tasawuf yang berkembang pada
masa itu, sehingga mereka membaginya ke dalam tiga macam, yakni; Tasawuf yang
berintikan ilmu jiwa, ilmu akhlaq dan Metafisika. Tokoh-tokoh sufi pada masa
ini diantaranya; Abu Sulaiman Ad-Daaraany, Ahmad bin Al-Hawaary Ad-Damasqiy,
Abul Faidh Dzuun Nun bin Ibrahim Al-Mishry, dll.
3. Perkembangan tasawuf pada abad ke
empat hijriyah
Pada
abad ini ditandai dengan kemajuan ilmu tasawuf yang lebih pesat dibandingkan
dengan kemajuannya di abad ketiga hijriyyah, karena usaha maksimal para ulama
tasawuf untuk mengembangkan ajaran tasawufnya masing-masing. Tokoh-tokoh
sufinya antara lain Musa Al-Anshaary, Abu Hamid bin Muhammad, Abu Zaid
Al-Adamy, Abu Ali Muhammad bin Abdil Wahhab, dll.
4. Pada abad kelima hijriyyah
Disamping
adanya pertentangan yang turun temurun antara Ulama sufi dengan ulama Fiqih,
maka pada abad kelima ini, keadaan semakin rawan ketika berkembangnya mahzab
Syi’ah ismaa’iliyah; yaitu suatu mahzab yang hendak mengembalikan kekuasaan
pemerintahan kepada keturunan Ali bin Abi Thalib. Karena menganggapnya bahwa
dunia ini harus diatur oleh imam, karena dialah yang langsung menerima petunjuk
dari Rosulullah saw.
Menurut mereka ada 12 imam yang berhak mengatur dunia ini
yang disebut sebagai imam mahdi, yang akan mmenjelma ke dunia dengan membawa
keadilan dan memurnikan agama islam. Kedua belas imam itu adalah:
1. Ali bin Abi Thalib
2. Hasan bin Ali
3. Husein bin Ali
4. Ali bin Husein
5. Muhammad Al-Baakir bin Ali bin
Husein
6. Ja’far shadiq bin Muhammad Al Baakir
7. Musa Al-Kazhim bin Ja’far Shadiq
8. Ali Ridhaa bin Kazhim
9. Muhammad Jawwad bin Ali Ridha
10. Ali Al-Haadi bin Jawwaad
11. Hasan Askary bin Al-Haadi
12. Muhammad bin Hasan Al-Mahdi
5. Pada abad keenam, ketujuh dan
kedelapan Hijriyyah
Perkembangan
tasawuf pada abad keenam Hijriyyah; abad ini
suasana kemelut antar ulama syariat dengan ulama Tasawuf memburuk, karena
dihidupkannya lagi pemikiran-pemikiran al-Hulul, Widatul wujud dan Widatul
Adyan oleh kebanyakan ulama Tasawuf. para ulama yang sangat berpengaruh
pada zaman ini adalah Syihabuddin Abul Futu As-Suhrawardy, Al-Ghaznawy.
6. Perkembangan tasawuf pada abad
ketujuh Hijriyyah; pada abad ini tercatat dalam
sejarah bahwa masa menurunnya gaerah masyarakat Islam untuk mempelajari Tasawuf
karena :
a) Semakin gencarnya serangan ulama syariat memerangi ahli
Tasawuf, yang diiringi dengan serangan golongan Syiah yang menekuni ilmu kalam
dan fiqih.
b) Adanya tekat penguasa pada masa itu untuk melenyapkan
ajaran Tasawuf di dunia Islam karena dianggap kegiatan itu menjadi sumber
perpecahan umat Islam. ada
beberapa ahli tasawuf yang berpengaruh di abad ini diantaranya; Umar Abdul
Faridh, Ibnu Sabi’iin, Jalaluddin Ar-Ruumy, dll.
c) Perkembangan Tasawuf pada abad kedelapan Hijriyyah;
Perkembangan Tasawuf abad ini tidak terdengar perkembangannya dan pemikiran
baru dalam Tasawuf, meskipun banyak pengarang kaum shufi yang mengemukakan
pemikiran tentang ilmu Tasawuf, namun kurang mendapat perhatian sungguh-sungguh
dari umat Islam. Sehingga nasib ajaran Tasawuf hampir sama dengan abad ketujuh.
d) Pada abad kesembilan, kesepuluh
Hijriyyah dan sesudahnya.
Dalam
beberapa abad ini, betul-betul ajaran tasawuf sangat sunyi di dunia islam,
artinya nasibnya lebih buruk lagi dari keadaannya pada abad keenam, ketujuh dan
kedelapan Hijriyah. Faktor yang menyebabkan runtuhnya ajaran tasawuf ini antara
lain; ahli tasawuf sudah kehilangan kepercayaan di kalangan masyarakat islam.
Serta adanya penjajah bangsa eropa yang beragama Nasrani ynag menguasai seluruh
negeri islam.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Kata
Tasawuf biasa disandingkan dengan beberapa istilah antara lain
Al Suffah (Ahl Al suffah), Shaf , Sufi ,
Sophos, Suf.
Tasawuf pada intinya adalah upaya melatih jiwa
dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan dirinya dari pengaruh kehidupan
dunia, sehingga tercermin akhlak yang mulia dan dekat dengan Allah SWT. Dengan
kata lain, tasawuf adalah bidang kegiatan yang berhubungandengan pembinaan
mental rohaniah agar selalu dekat dengan Tuhan. Inilah esensi atau hakikat
tasawuf.
Sumber tasawuf terdiri dari unsur islam dan
unsur luar islam yang terdiri dari unsur Masehi, unsur Yunani, unsur
Hindu/Budha, unsur Persia.
DAFTAR PUSTAKA
Nata, abuddin, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta:
Rajawali Pers, 2015).
Amin, Samsul M, Ilmu Tasawuf, (Jakarta: Bumi Aksara,
2012).
Anwar, Rosihon, Akhlak
tasawuf, Bandung: Pustaka Setia.
Nasution, Harun,
Falsafat dan Mistisme dalam Islam,
Jakarta, Bulan Bintang, 1995
Abu BakarAceh, Pengantar Sejarah Sufi dan tasawuf,
(Solo : Ramadlani), 1984,hlm.57
Tidak ada komentar:
Posting Komentar